ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280
Wismoyo Aris Munandar, mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) punya
pengalaman unik ketika berhubungan dengan Soeharto. Pengalaman pertama
saat terjadi kerusuhan di jakarta yang terkenal dengan sebutan
Malapetaka 15 Januari (Malari) 1974.
Saat itu mahasiswa berdemonstrasi dan melakukan tindakan anarkis,
menuntut Soeharto turun dari jabatan sebagai presiden. "Pada waktu itu
saya masih berpangkat Mayor dan menjadi Wakil Asisten Pengamanan
Kopassanda (kini bernama Kopassus). Saya ditugaskan menyampaikan pesan
Komandan Kopassanda kepada Presiden Soeharto," kata purnawirawan
jenderal bintang empat itu.
Maksud pesan itu, agar Soeharto tidak ragu-ragu sehingga ia bisa membaca
situasi dengan jelas. Wismoyo ditemui Soeharto di rumahnya, Jl
Cendana, Jakarta. Saat itu Seoharto mengenakan sarung dan kaus oblong.
"Bisa dibayangkan, saya yang seorang Mayor menghadap Presiden, pasti
deg-degan," ujar Wismoyo
"Ono opo (Ada apa)," tanya Soeharto. Wismoyo kemudian menyampaikan pesan
Komandan Jenderal Kopassanda bahwa Kopassanda tetap setia kepada
Presiden RI. Soeharto tanpak santai mendengar pesan itu.
"Setia iku opo (Setia itu apa)," tanya Soeharto. Wismoyo terhenyak,
tidak menduga mendapat pertanyaan seperti itu. Namun Soeharto kemudian
mencairkan suasana dengan menjelaskan setia itu berarti memegang teguh
kebersamaan dalam mencapai cita-cita.
"Kalau kamu ingin menjadi pribadi yang maju, kamu harus pandai mengenal
apa yang terjadi, pandai melihat, pandai mendengar, dan pandai
menganalisis," kata Soeharto kepada Wismoyo.
Setelah peristiwa tersebut. Wismoyo mengaku memiliki pengalaman unik
lainnya. Yaitu, ketika Wismoyo hendak meminang adik ipar Soeharto, Datit
Siti Hardjanti (adik kandung Ny Tien Soeharto). "Walaupun orang Jawa,
saya tidak memahami betul tata krama Jawa hinggil (tinggi). Saya bahkan
tidak bisa berbahasa Jawa krama (halus). Namun apa daya cinta saya
berlabuh kepada Datit Siti Hardjanti, adik kandung Ibu Tien Soeharto,"
kenang mantan Komandan Jenderal Kopassus itu.
Datit ternyata minta Wismoyo meminang dirinya kepada Soeharto dan Ny
Tien. "Sehari sebelum persitiwa penting dalam hidup saya itu, saya
mempersiapkan diri lahir dan batin. Dengan grogi saya bolak-balik
membersihkan sepatu supaya berkilau," ujar Wismoyo.
Wismoyo berangkat ke rumah Soeharto sendirian. Setelah Wsmoyo masuk
ruang pertemuan tanpa melepas sepatu, Ny Tien memperhatikan dirinya dari
bawah sampai ke atas. Tentu saja Wismoyo grogi bukan kepalang.
"Wong lanang kok ingah-ingih (Laki-laki kok tersipu-sipu)," kata Ibu Tien.
Wismoyo kemudian memandang ke arah Soeharto yang saat itu hanya
tersenyum. Wismoyo menunduk, terdiam seribu bahasa. "Aku mbiyen yo
ingah-ingih (Saya dulu juga tersipu-sipu)," ujar Soeharto sambil
tersenyum.
Celetukan Soeharto tersebut membangkitkan kembali semangat Wismoyo untuk
menyampaikan maksud kedatangannya. "Sungguh kalimat Pak Harto
memotivasi kembali semangat saya. Peristiwa kecil itu sangat membekas di
hati saya. Setiap pemimpin harus berani menyelamatkan bawahannya yang
bertujuan baik," tambah pria yang pernah menjabat Pangdam Diponegoro
itu.
Keputusan berani
Pada suatu waktu Wismoyo menanyakan kepada Soeharto, apa yang membuatnya berani mengambil keputusan cepat untuk mengatasi pemberontakan PKI yang melakukan Gerakan 30 September 1965.
Pada suatu waktu Wismoyo menanyakan kepada Soeharto, apa yang membuatnya berani mengambil keputusan cepat untuk mengatasi pemberontakan PKI yang melakukan Gerakan 30 September 1965.
"Saya ini tentara. Tentara itu pedoman hidupnya Sapta Marga. Kami
patriot Indonesia, pendukung dan pembela ideologi negara yang
bertanggungjawab dan tidak mengenal menyerah. Melihat pemberontak yang
komunis, sedangkan ideologi negara adalah Pancasila, ya saya harus
melawan. Kalau saya kalah, saya akan memberontak," jawab Soeharto
Saat terjadi pemberontakan PKI, Soeharto menjabat sebagai Panglima
Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). "Tidak mudah memutuskan
sesuatu seperti dilakukan Pak Harto pada saat itu. Keadaan sangat sulit,
namun Pak Harto punya nyali. Keputusan itu sangat beliau yakini
kebenarannya. Alon-alon asal kelakon (Pelan-pelan asal terlaksana),"
kata Wismoyo
Sumber http://www.tribunnews.com/nasional/2011/06/27/soeharto-kalau-kalah-dari-pki-saya-akan-jadi-pemberontak-3?page=all

0 Response to "Keringat Dingin Mayor Wismoyo Saat Meminang Adik Ipar Soeharto, "Wong lanang kok ingah-ingih" DUUHHH..."
Posting Komentar